Karubaga,Tolikara[papuani.com]–Kementerian Agama Republik Indonesia (Kemenag RI) menekankan pentingnya menyelaraskan nilai-nilai agama dan kearifan lokal budaya sebagai pondasi utama pembangunan karakter, perdamaian, serta pelestarian lingkungan di Tanah Papua. Hal tersebut disampaikan oleh Direktur Urusan Agama Kristen Ditjen Bimas Kristen Kemenag RI, Luksen Jems Mayor saat memberikan sambutan dalam pembukaan Festival Budaya Religi Kabupaten Tolikara, Provinsi Papua Pegunungan, di Karubaga, Rabu (12/8/2026).
Dalam perhelatan tersebut, Direktur Urusan Agama Kristen, Luksen Jems Mayor menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya kepada Pemerintah Kabupaten Tolikara, pimpinan gereja, tokoh adat, serta seluruh elemen masyarakat yang telah menempatkan agama dan budaya sebagai program unggulan daerah. Langkah ini dinilai strategis dan sejalan dengan program Asta Cita Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka, khususnya dalam memperkuat kerukunan umat beragama, moderasi, serta ekoteologi.

“Agama dan budaya hendaknya tidak dipertentangkan. Agama memberikan arah moral, sementara budaya adalah ruang mengekspresikan nilai-nilai luhur. Ketika keduanya berjalan secara harmonis, ini menjadi kekuatan luar biasa untuk membangun masyarakat yang damai, bermartabat, dan sejahtera,” ujar Luksen Jems Mayor
Ia menegaskan, kehadiran Injil dan sejarah pekabaran agama Kristen di kawasan Pegunungan Tengah Papua tidak bertujuan untuk menghapus identitas maupun adat istiadat setempat. Sebaliknya, transformasi nilai imaniah harus dapat berdialog dengan kebudayaan lokal tanpa menghilangkan akar tradisi masyarakat Papua.

Lebih lanjut, Luksen Jems Mayor menyampaikan pesan penting mengenai ekoteologi turut disuarakan. Masyarakat diimbau untuk tidak hanya memanfaatkan alam Papua, tetapi juga memikul tanggung jawab moral untuk menjaga dan merawat kekayaan hutan, gunung, dan sungai demi generasi mendatang. Pembangunan fisik di Tolikara diharapkan berjalan seiring dengan pelestarian lingkungan dan pembangunan manusia.
Melalui festival ini, ia juga menekankan peran penting generasi muda Papua agar tidak kehilangan identitas di tengah era modernisasi. Acara ini diharapkan menjadi ruang bagi pemuda untuk mengenal sejarah, mengembangkan kreativitas, dan memperkuat persaudaraan.

“Mari kita jadikan festival ini sebagai panggung persaudaraan, tempat kita saling menghargai dan menguatkan. Kita boleh berbeda dalam budaya, tetapi kita satu dalam kemanusiaan dan kecintaan kepada Tanah Papua serta NKRI,” pungkasnya.
Seperti diketahui, Pemerintah Kabupaten Tolikara resmi membuka gelaran Festival Etnik Religi Tolikara Tahun 2026 di Kota Karubaga pada Rabu (12/8/2026). Perhelatan budaya dan keagamaan yang berlangsung selama dua hari hingga Kamis (13/8/2026) ini mengusung tema “Lestarikan Budaya dan Perkuat Iman untuk Tolikara yang Maju, Damai, dan Beridentitas”.

Bupati Tolikara, Willem Wandik, S.Sos secara resmi membuka ajang tahunan ini di hadapan jajaran Pemkab Tolikara, Forkopimda, tokoh adat, tokoh agama, tokoh masyarakat, serta masyarakat dari berbagai distrik dan kampung.
Pembukaan festival dimeriahkan oleh Pertunjukan Kolosal Ukulele Pelajar yang dibawakan secara massal oleh siswa-siswi SD, SMP, hingga SMA/SMK se-Kabupaten Tolikara. Penampilan ini memadukan petikan musik rohani dengan gerakan koreografis sebagai lambang kontinuitas pewarisan iman dan budaya kepada generasi muda.

Festival Etnik Religi Kabupaten Tolikara 2026 menyuguhkan berbagai rangkaian kegiatan utama, diantaranya Tarian Kolosal Sejarah Masuknya Injil (Menggambarkan perjalanan masuknya ajaran Injil dan transformasi sosial di Lembah Toli) Tradisi Lendawi (Seni tuturan ratapan dan syair perjumpaan adat khas masyarakat Tolikara), dan Atraksi Tandem Paralayang (Promosi wisata olahraga dirgantara yang menampilkan keindahan panorama alam Pegunungan Tolikara).[Kemenag Tolikara]*






