Festival Etnik Religi Tolikara Siap Digelar 2026, Bakal Berkolaborasi dengan FDS dan FLB

JAYAPURA[papuani.com]–Sebuah langkah besar diambil untuk memperkuat identitas pariwisata Papua. Melalui Focus Group Discussion (FGD) yang digelar di Hotel Grand Talent Jayapura, Senin (29/12/2025), Pemerintah Kabupaten Tolikara mewacanakan penyelenggaraan Festival Etnik Religi (FER) pada tahun 2026 mendatang.

FGD FER dihadiri Bupati Tolikara Willem Wandik, S.Sos bersama Sekda, Asisten Setda, Kepala Dinas Pariwisata dan Kepala Dinas Lingkungan Hidup Tolikara. Tak hanya dari internal Pemda, FGD ini melibatkan unsur luas yakni Dinas Pariwisata Provinsi Papua, Dinas Pariwisata Kabupaten Jayapura, Asosiasi Pariwisata (HPI dan ASITA) dan Akademisi dari Universitas Cenderawasih.

Asisten Bidang Ekonomi, Pembangunan dan SDM Setda Kabupaten Tolikara, Dr. Imanuel Gurik, SE.,M.Ec.Dev dalam keterangannya kepada media mengatakan, FER tidak berdiri sendiri. Festival ini dirancang untuk berkolaborasi dengan dua ajang besar lainnya, yakni Festival Danau Sentani (FDS) dan Festival Lembah Baliem (FLB).

FER bukan sekadar agenda seremoni tahunan dan diharapkan menjadi motor penggerak pembangunan daerah yang menempatkan iman, budaya, dan kebersamaan sebagai fondasi utama.

“FER diposisikan sebagai kebijakan lintas sektor yang menyentuh aspek budaya, lingkungan, hingga ekonomi berkelanjutan. Pembangunan sejati harus bertolak dari jiwa masyarakatnya sendiri,” ucap Dr. Imanuel Gurik.

Ia juga mengatakan, kolaborasi antara FER, FDS, dan FLB dipandang sebagai cara mempertegas semangat kebersamaan di tanah Papua. Masing-masing festival membawa keunikan tersendiri. FDS: Keunggulan tata kelola komunitas dan budaya air/danau. FLB: Ketangguhan tradisi dan solidaritas antarsuku di pegunungan. FER: Melengkapi dengan dimensi etnik-religi, di mana iman dirayakan dalam budaya.

“Sinergi ini bertujuan untuk menciptakan kalender acara yang terintegrasi, sehingga arus kunjungan wisatawan menjadi lebih stabil dan manfaat ekonominya menyebar secara adil lintas daerah,” jelasnya.

Asisten II menjelaskan, selain aspek spiritual, FER 2026 diproyeksikan menjadi panggung bagi ekonomi kerakyatan. Pelaku UMKM, pengrajin, petani, hingga seniman lokal, khususnya Orang Asli Papua (OAP), akan menjadi subjek utama dalam perputaran ekonomi festival ini.

Generasi muda juga didorong untuk mengambil peran sentral. Mulai dari kurasi program hingga promosi digital, keterlibatan pemuda diharapkan mampu membawa tradisi Papua menjangkau dunia tanpa kehilangan jati diri.

Aspek ekologis tak luput dari pembahasan. Mengingat bagi masyarakat Papua alam adalah bagian dari spiritualitas, FER 2026 akan menerapkan etika pariwisata yang ketat, termasuk pengelolaan sampah yang bertanggung jawab dan edukasi kearifan lokal bagi pengunjung.

“Dengan wacana ini, Tolikara dan Papua secara luas siap melangkah menuju panggung dunia melalui pariwisata yang bermartabat, berintegritas, dan berbasis pada nilai-nilai luhur masyarakat,” jelas Dr. Imanuel Gurik.[Diskomdigi Tolikara]*

Post View : 576

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *