Jayapura[papuani.com]-Anggota DPD RI Dapil Papua Pegunungan, Arianto Kogoya, S.E menekankan pentingnya penginjilan pribadi oleh ibu kepada anak sejak dini dari lingkungan keluarga. Hal tersebut disampaikannya saat menghadiri seminar sehari bertajuk “Ada Sukacita, Satu Jiwa Diselamatkan” yang digelar Perempuan GIDI Klasis Cycloop Sentani di Jemaat Imanuel Pos 7 Sentani, Kabupaten Jayapura, Selasa (11/8/2026).
Dalam sambutannya, Arianto menegaskan bahwa rumah dan keluarga adalah tempat pertama serta utama untuk mendidik, membentuk karakter, dan mengenalkan nilai-nilai iman kepada anak. Pendidikan rohani tidak harus menunggu acara besar, melainkan bisa dimulai langsung melalui komunikasi harian dan teladan orang tua.
“Penginjilan pribadi itu bisa kita mulai dari keluarga. Bagaimana ibu dan bapak menyampaikan pesan kepada anak-anak, mengajarkan firman Tuhan, dan memberikan teladan dalam kehidupan sehari-hari,” ujar Arianto Kogoya.
Ia menambahkan, seorang ibu memiliki posisi yang sangat penting dalam pertumbuhan anak karena memiliki kedekatan dan interaksi yang cukup besar dengan anak dalam kehidupan sehari-hari.

Arianto Kogoya mengajak para ibu untuk menggunakan kesempatan tersebut dalam membangun kehidupan rohani anak. Ia menilai, pendidikan iman yang diberikan sejak dini dapat membantu anak menghadapi berbagai tantangan ketika tumbuh dewasa.
“Pendidikan pertama itu dimulai dari orang tua. Dari rumah kita mengajarkan anak bagaimana hidup, bagaimana melayani dan bagaimana mengenal Tuhan,” ujarnya.
Senator asal Tolikara Provinsi Papua Pegunungan ini juga mengingatkan bahwa tugas orang tua bukan hanya memenuhi kebutuhan fisik dan pendidikan formal anak. Orang tua juga memiliki tanggung jawab dalam membentuk karakter dan kehidupan spiritual anak.
Ia meminta para ibu untuk tidak hanya memberikan nasihat, tetapi juga menjadi contoh bagi anak melalui perkataan, sikap dan perilaku sehari-hari.
“Anak-anak melihat apa yang dilakukan orang tuanya. Karena itu, ibu harus menjadi contoh yang baik. Dari situ anak bisa belajar bagaimana hidup dalam Tuhan,” tandasnya.
Selain persoalan penginjilan pribadi kepada anak, Arianto menyoroti tantangan yang dihadapi keluarga di tengah perkembangan teknologi dan media sosial.
Menurutnya, anak-anak saat ini tumbuh dalam lingkungan yang berbeda dibandingkan generasi sebelumnya. Kehadiran telepon seluler dan media sosial memberikan banyak informasi yang dapat memengaruhi pola pikir dan perilaku anak.
Karena itu, ia meminta para ibu dan orang tua untuk memberikan pendampingan kepada anak dalam menggunakan teknologi.
“Ibu-ibu harus memberikan perhatian kepada anak-anak. Sekarang anak-anak sudah menggunakan HP dan media sosial. Kalau tidak didampingi, berbagai informasi yang mereka terima bisa memengaruhi kehidupan mereka,” jelasnya.
Menurut Arianto Kogoya, orang tua tidak boleh menyerahkan sepenuhnya pendidikan dan pembentukan karakter anak kepada sekolah maupun lingkungan luar.
Ia menegaskan bahwa keluarga tetap menjadi tempat pertama dan utama dalam membentuk karakter anak.
“Jangan sampai kita berpikir pendidikan anak hanya menjadi tugas sekolah. Pendidikan pertama dimulai dari keluarga. Di situlah peran ibu dan bapak sangat penting,” tuturnya.
Arianto Kogoya juga memberikan apresiasi kepada kaum perempuan yang selama ini menjalankan berbagai tanggung jawab dalam keluarga.
Ia juga menjelaskan, seorang ibu tidak hanya mengurus rumah tangga, tetapi juga mendampingi anak, memperhatikan kebutuhan pendidikan dan menjadi bagian penting dalam menjaga kehidupan keluarga.
Ia berharap seminar tersebut tidak hanya menjadi kegiatan seremonial, tetapi dapat memberikan perubahan nyata dalam kehidupan keluarga para peserta.
Arianto Kogoya mengajak seluruh peserta untuk menerapkan materi yang diperoleh dalam kehidupan sehari-hari, terutama dalam mendampingi anak dan memperkuat kehidupan iman keluarga.
“Semoga kegiatan ini memberikan manfaat bagi kita semua. Apa yang kita dapatkan hari ini bisa kita bawa pulang dan diterapkan dalam keluarga, sehingga anak-anak kita dapat bertumbuh dengan baik,” ucapnya.
Ia juga mengajak kaum perempuan untuk tetap berpegang pada firman Tuhan dalam menjalankan tanggung jawab sebagai ibu dan anggota keluarga.
“Yang paling penting, kita tetap berada di dalam Tuhan dan menjalankan kehidupan sesuai dengan firman Tuhan,” pungkasnya.
Seminar sehari Perempuan GIDI Klasis Cycloop Sentani kemudian dilanjutkan dengan penyampaian materi dan pembelajaran kepada peserta mengenai kehidupan perempuan, keluarga serta penginjilan pribadi kepada anak.*






