Oleh: Dr. Yosua Noak Douw, S.Sos., M.Si., MA
Seratus tahun telah berlalu sejak I.S. Kijne, misionaris dan pendidik legendaris di tanah Papua, menorehkan pemikiran-pemikirannya. Namun, salah satu ucapannya bagai api yang tak kunjung padam: “Bangsa ini akan bangkit memimpin dirinya sendiri.” Kalimat ini bukan sekadar kutipan usang dari buku tua, melainkan sebuah visi yang masih menyengat dan relevan untuk direnungkan hari ini, terutama dalam menyambut satu abad perjalanan pendidikan dan peradaban Papua.
Dalam gegap gempita wacana tentang Papua yang sering kali terjebak dalam dikotomi politik, suara Kijne justru mengajak kita menyelam lebih dalam. Ia tidak hanya berbicara tentang kemerdekaan secara politik, tetapi tentang emansipasi total—sebuah kebangkitan jiwa yang meliputi aspek intelektual, moral, spiritual, dan kultural. Inilah mimpi besar yang patut menjadi cermin bersama.
Lebih dari Sekadar Politik : Memaknai “Memimpin Diri Sendiri”
Bagi Kijne, “memimpin dirinya sendiri” adalah puncak dari kedewasaan sebuah bangsa. Ini adalah antitesis dari mentalitas “diselamatkan oleh pihak luar” yang kerap melahirkan ketergantungan dan rasa inferior. Visi Kijne mencakup : Pertama, Kedaulatan Intelektual: Bangsa Papua harus percaya pada kemampuan pikirannya sendiri untuk menganalisis masalah, merancang solusi, dan menciptakan masa depan. Ini tentang menjadi subjek pengetahuan, bukan sekadar objek dari ilmu orang lain. Kedua, Kemandirian Ekonomi : Memimpin diri sendiri berarti membangun ekonomi yang berdaulat, lepas dari jerat eksploitasi dan ketergantungan yang membuatnya hanya menjadi penonton di tanahnya sendiri. Ketiga, Kebanggaan Kultural : Sebuah kebangkitan mustahil tanpa rasa cinta dan hormat pada identitas diri. Kijne mendorong bangsa Papua untuk tidak malu dengan budayanya, tetapi justru mengembangkannya sebagai landasan kemajuan. Keempat, Kematangan Spiritual: Sebagai seorang misionaris, Kijne meyakini bahwa kebangkitan adalah panggilan Ilahi. Tuhan telah menanamkan benih martabat dan kapasitas pada setiap manusia dan bangsa untuk berdiri tegak.
Pemimpin dari Rahim Sendiri : Fondasi Pendidikan yang Memanusiakan
Kunci dari seluruh visi Kijne terletak pada pendidikan. Bagi pendiri sekolah guru di Mei Wondama ini, sekolah bukanlah pabrik pencetak ijazah, melainkan taman pemerdekaan mental. Di bangku sekolah, anak-anak Papua harus dibangkitkan rasa percaya dirinya, diasah daya kritisnya, dan ditanamkan tanggung jawab kolektifnya.
Dari sinilah lahir gagasannya yang paling terkenal : “Pemimpin sejati harus lahir dari rahim bangsanya sendiri.” Sebuah pernyataan yang revolusioner. Kijne menolak model kepemimpinan yang diimpor atau dipaksakan dari luar. Pemimpin organik—yang lahir dari rakyat, memahami denyut nadinya, dan berjuang demi kepentingannya—adalah satu-satunya pemimpin yang dapat dipercaya untuk membawa bangsanya keluar dari kegelapan.
Pendidikan ala Kijne pada hakikatnya adalah proses dekolonisasi pikiran. Ia ingin membebaskan mental bangsa Papua dari belenggu inferioritas dan ketergantungan, membentuknya menjadi manusia merdeka yang sanggup memimpin kehidupannya sendiri.
Tantangan Terberat Bukan di Luar, Tapi di Dalam Diri
Namun, Kijne bukanlah seorang pemimpi yang buta. Dengan keberanian dan kecintaan yang tulus, ia juga menyoroti penghalang terbesar kebangkitan itu, yang justru bersemayam di dalam diri sendiri. Dalam catatannya, ia menulis:
“Selama bangsa Papua masih terikat pada sifat malas, mabuk, iri hati, angkuh, dendam, labil, individualistis, dan egois, maka bangsa ini akan tetap jauh dari cita-citanya.”
Ini adalah kritik yang pedas namun penuh kasih. Kijne menyadari bahwa musuh terbesar sering kali adalah kelemahan karakter kita sendiri.
- “Malas dan mabuk” adalah simbol dari apatis dan pelarian dari tanggung jawab. Ini adalah musuh produktivitas dan kemajuan.
- “Iri hati, angkuh, dan dendam” adalah racun yang menggerogoti solidaritas sosial. Ia menghancurkan persatuan dan menghalangi terciptanya rekonsiliasi yang diperlukan untuk membangun bersama.
- “Labil, individualistis, dan egois” menghancurkan fondasi tanggung jawab kolektif. Sebuah bangsa tidak mungkin bangkit jika setiap orang hanya memikirkan dirinya sendiri.
Dengan kata lain, Kijne mengingatkan bahwa memimpin diri sendiri adalah sebuah tanggung jawab besar yang mensyaratkan kedewasaan moral. Kebangkitan tidak akan pernah hadir tanpa perang melawan “keterpurukan dan keterbelengguan” dalam diri sendiri.
Relevansi untuk Indonesia Kini : Sebuah Cermin Nasional
Visi Kijne jauh melampaui batas geografis Papua. Ia menjadi cermin bagi seluruh bangsa Indonesia. Dalam konteks otonomi daerah dan pembangunan nasional, semangat “memimpin diri sendiri” adalah fondasi untuk membangun Indonesia yang lebih adil dan merata.
Daerah-daerah, tidak hanya Papua, didorong untuk menjadi subjek pembangunan, bukan sekadar objek pasif. Mereka harus memiliki kemandirian, inisiatif, dan pemimpin-pemimpin organik yang memahami potensi dan masalah lokalnya. Mental “menunggu instruksi dari pusat” atau “mengandalkan bantuan” tanpa usaha mandiri adalah bentuk modern dari mentalitas yang ditentang Kijne.
Seruannya untuk “membangun komitmen massal memerangi keterpurukan” adalah seruan bagi kita semua untuk melakukan introspeksi nasional. Sejauh mana karakter bangsa kita telah terbebas dari sifat-sifat malas, iri hati, dan egois yang menghambat kemajuan?
Penutup : Menyalakan Kembali Api Kijne
Menjelang satu abad perjalanan, api visi I.S. Kijne tidak boleh padam. Kalimatnya adalah sebuah panggilan untuk bertindak dan berubah.
Bagi masyarakat dan pemuda Papua, ini adalah panggilan untuk bangkit, menuntut ilmu dengan sungguh-sungguh, membangun karakter yang tangguh, dan mempersiapkan diri untuk menjadi pemimpin organik yang lahir dari rahim Papua sendiri.
Bagi pemerintah dan seluruh anak bangsa, ini adalah pengingat bahwa pembangunan di tanah Papua—dan daerah lain di Indonesia—haruslah bermuara pada pemberdayaan dan kemandirian. Tujuannya adalah menciptakan ruang di mana bangsa Papua dapat menjadi tuan di rumahnya sendiri, mampu berdiri tegak dengan martabat, kebijaksanaan, dan kepemimpinan yang lahir dari dalam.
“Bangsa ini akan bangkit memimpin dirinya sendiri” bukanlah akhir perjalanan, melainkan kompas yang menuntun kita ke arah yang benar. Mari kita jadikan satu abad ini sebagai momentum untuk menyalakan kembali obor itu, memperbarui komitmen, dan bersama-sama mewujudkan mimpi besar sang pendidik: sebuah kebangkitan sejati yang dimulai dari dalam diri.
Penulis adalah Tokoh Muda Gereja






