Oleh: Dr. Imanuel Gurik,SE.,M.Ec.Dev (Asisten II Setda Kabupaten Tolikara)
Setiap orang dengan lantang mengakui bahwa Papua adalah Tanah Injil. Kalimat itu sering kita dengar di gereja, dalam ibadah, bahkan di berbagai acara resmi pemerintahan dan masyarakat. Namun, pertanyaannya: apakah pengakuan itu hanya berhenti di bibir, atau sudah benar-benar hidup dalam perilaku dan karakter kita sehari-hari?
Mengaku bahwa Papua adalah Tanah Injil berarti kita mengakui bahwa tanah ini telah diberkati oleh Tuhan melalui firman-Nya. Injil yang datang ke tanah Papua pada tahun 1855 di Pulau Mansinam dan menyebar hingga ke pedalaman Lembah Toli, Bokondini, dan seluruh wilayah Pegunungan Papua bukan hanya untuk dikenang sebagai sejarah, melainkan untuk dihidupi. Firman Tuhan bukan sekadar cerita masa lalu, melainkan panggilan untuk membangun kehidupan yang mencerminkan kasih, kejujuran, dan kebenaran Kristus dalam segala aspek hidup kita.
Yesus Kristus mengajarkan bahwa pohon dikenal dari buahnya. Artinya, seseorang yang mengaku beriman kepada Kristus harus menunjukkan buah-buah Roh dalam hidupnya — kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, dan penguasaan diri (Galatia 5:22-23). Di sinilah tantangan terbesar bagi umat Tuhan di Tanah Papua. Banyak yang mengaku Kristen, tetapi perilakunya sering kali bertentangan dengan ajaran Kristus. Masih ada kebencian, iri hati, fitnah, bahkan kekerasan yang dilakukan oleh mereka yang mengaku hidup di Tanah Injil.
Seharusnya, kehidupan umat Kristen di Papua menjadi terang dan garam bagi dunia. Dalam pekerjaan, kita harus jujur; dalam pelayanan, kita harus tulus; dalam pemerintahan, kita harus adil; dan dalam keluarga, kita harus saling mengasihi. Jika karakter Kristus nyata dalam diri setiap orang Papua, maka semboyan Papua Tanah Injil bukan sekadar slogan, melainkan kenyataan yang hidup.
Papua akan menjadi tanah yang benar-benar diberkati bukan karena banyaknya gereja yang berdiri, tetapi karena orang-orang yang hidupnya mencerminkan kasih Kristus. Dunia akan melihat Papua bukan hanya sebagai tempat Injil pernah datang, tetapi sebagai tanah di mana Injil benar-benar hidup di hati umatnya.
Maka dari itu, marilah kita bertobat dari cara hidup yang tidak berkenan kepada Tuhan. Mari kita belajar meneladani Yesus dalam berkata-kata, bersikap, dan bertindak. Sebab, mengakui Papua Tanah Injil tanpa memiliki karakter Kristus sama saja dengan memegang Alkitab tanpa pernah membukanya.
Tuhan memanggil setiap orang Papua untuk menjadi saksi-Nya di tanah ini. Tunjukkan bahwa kita adalah anak-anak terang yang memuliakan nama Tuhan dalam segala hal. Jika setiap orang Papua hidup dengan karakter Kristus — penuh kasih, rendah hati, dan jujur — maka benar adanya bahwa Papua adalah Tanah Injil yang hidup, bukan hanya dalam ucapan, tetapi dalam tindakan nyata.
“Papua Tanah Injil bukan karena sejarah, tetapi karena kehidupan umatnya yang menyerupai Kristus.”*






