Refleksi Teknokrstis
Oleh: Dr. Rafael Kapura, S.IP., M.Si
Tolikara bukan sekadar wilayah administratif di Papua Pegunungan. Ia adalah identitas yang hidup dalam makna namanya sendiri. “Tolikara” dapat dimaknai sebagai dari Gunung ke Sungai. Kata Toli menunjuk pada puncak-puncak pegunungan yang menjulang, sedangkan Kara merujuk pada lembah hitam yang aliran kalinya bermuara ke Sungai Mamberamo.
Bila dibalik menjadi Karatoli, maka maknanya berubah: dari Sungai ke Gunung. Dalam logika inilah arah pembangunan Tolikara seharusnya dipahami—dua arus yang saling menguatkan, bukan saling meniadakan.
Gunung sebagai Penjaga Kehidupan
Secara geologis, puncak tertinggi seperti Gunung Kubu Belela bukan hanya simbol ketinggian, tetapi juga simbol tanggung jawab. Gunung adalah penjaga mata air, pengatur iklim mikro, dan fondasi keseimbangan ekologi. Maka pembangunan wilayah gunung harus berbasis konservasi: cagar alam, wisata pegunungan, serta perlindungan hutan secara ketat.
Tanpa perlindungan kawasan pegunungan, kita sedang menyiapkan bencana: longsor, banjir, gagal panen, dan krisis air bersih.
Sungai dan Lembah sebagai Penggerak Ekonomi
Sebaliknya, wilayah lembah dan aliran sungai merupakan ruang produktif. Tanah basah yang subur dapat menjadi pusat pengembangan buah merah, kopi, umbi-umbian, sayuran, dan rempah-rempah. Larfa Kali Toli dan kali-kali lainnya menyimpan potensi mineral dan air mineral yang bisa dikelola secara berkelanjutan.
Wilayah Douw, Wari, dan Egiam—yang berada pada dataran rendah aliran Sungai Mamberamo—dapat diproyeksikan sebagai pusat pertumbuhan ekonomi baru, bahkan sebagai pusat pemerintahan ke depan untuk menopang kawasan pegunungan.
Pembangunan Berbasis Nilai
Pembangunan tidak boleh tercerabut dari budaya. Pemeliharaan babi dalam tradisi masyarakat Tolikara bukan sekadar ekonomi, tetapi simbol nilai dan martabat. Dengan manajemen modern, budaya ternak dapat menjadi kekuatan ekonomi keluarga tanpa kehilangan makna adatnya.
Demikian pula, potensi wisata seperti Danau Biuk dan pemandian air terjun perlu dikelola sebagai sumber pendapatan daerah sekaligus pelestarian alam.
Refleksi Teknokratis
Refleksi teknokratis berarti membaca alam sebagai buku rencana pembangunan. Gunung mengajarkan perlindungan. Sungai mengajarkan distribusi. Lembah mengajarkan produktivitas.
Pembangunan Tolikara tidak membutuhkan banyak retorika, tetapi tindakan nyata:
– Menyelamatkan orang sakit sebelum terlambat.
– Memastikan anak-anak bersekolah.
– Menjamin gizi ibu dan anak.
– Memberi ruang bagi pengembangan iman, etika, dan bakat generasi muda.
Fondasi pembangunan telah dirintis sejak kepemimpinan John Tabo, dilanjutkan oleh Usman G. Wanimbo, dan kini diteruskan oleh Willem Wandik. Tugas kita adalah menjaga kesinambungannya.
Akhirnya, membangun Tolikara berarti membangun identitasnya: dari Gunung ke Sungai, dan dari Sungai ke Gunung.
Mari bergandengan tangan membangun daerah yang kita cintai bersama. Tuhan menolong kita semua. Amin.*






