Pemkab Tolikara dan Kemenag Gelar Dialog Lintas Agama Untuk Perkuat Kerukunan Di Tanah Injil

Karubaga,Tolikara[papuani.com]-Pemerintah Kabupaten Tolikara dan Kementerian Agama (Kemenag) Kabupaten Tolikara menggelar Dialog Tokoh-Tokoh Agama se-Kabupaten Tolikara di Gedung GIDI Ebenhaezar Karubaga, Senin (10/8/2026).

Kegiatan yang mengusung tema “Merajut Kerukunan di Tanah Injil, Peran Tokoh Agama Menjaga Kedamaian Tolikara” ini menghadirkan tokoh agama Kristen, Islam, dan unsur keagamaan lainnya.

Bupati Tolikara, Willem Wandik, S.Sos membuka kegiatan tersebut sekaligus menjadi salah satu pemateri. Dalam sambutannya, ia menegaskan bahwa Tolikara memiliki posisi strategis dalam kehidupan sosial, budaya, keagamaan, bahkan dalam dinamika pembangunan di Tanah Papua. 

Menurut Bupati Willem Wandik, karena posisi strategis tersebut, masyarakat Tolikara memiliki tanggung jawab moral untuk membangun hubungan yang baik, bukan hanya dengan Tuhan, tetapi juga dengan sesama manusia tanpa membedakan latar belakang agama.

“Kita harus mempunyai relasi yang baik dengan Tuhan dan relasi yang baik dengan sesama umat beragama. Kalau hubungan itu kita bangun dengan baik, maka kita dapat hidup dalam damai dan menjadi berkat bagi orang lain,” ujar Bupati Willem Wandik.

Ia mengatakan, masyarakat Tolikara telah melewati perjalanan panjang dalam mengalami transformasi sosial dan budaya. Dalam perjalanan tersebut, masyarakat lokal mampu melakukan lompatan besar dalam berbagai bidang kehidupan. 

Dari masyarakat yang dahulu hidup dalam keterbatasan akses pendidikan dan pembangunan, kini telah lahir generasi yang mampu menjadi pemimpin, birokrat, intelektual, tokoh agama, hingga pemimpin pemerintahan di berbagai tingkatan.

Bagi Bupati Willem Wandik, pencapaian tersebut tidak boleh membuat masyarakat melupakan sejarah dan akar kehidupan yang telah membentuk mereka.

“Orang tua kita dahulu menerima para misionaris yang membawa ajaran Injil. Setelah itu mereka membangun hubungan yang kuat dengan Tuhan Allah. Dari situlah kita belajar, bertumbuh dan menjadi manusia yang mampu mengambil bagian dalam pembangunan,” tuturnya. 

Namun perjalanan sejarah tersebut juga harus menjadi dasar untuk membuka ruang persaudaraan yang lebih luas. Tanah Injil, kata Bupati Willem Wandik, harus menjadi tanah yang bukan hanya dikenal karena kehidupan iman, tetapi juga karena kedamaian, toleransi, persaudaraan dan penghormatan terhadap sesama.

Sementara itu, Direktur Urusan Agama Kristen Kementerian Agama RI, Luksen Jems Mayor, S.Sos.,M.AP memberikan apresiasi tinggi kepada Bupati Tolikara, Willem Wandik, S.Sos dan Wakil Bupati, Yotam Wonda, S.H.,M.Si atas dukungan terhadap pelaksanaan dialog lintas tokoh agama tersebut. 

Menurutnya, pertemuan seperti ini merupakan bukti bahwa pemerintah daerah memiliki kepedulian terhadap pentingnya membangun komunikasi dan hubungan yang harmonis di antara umat beragama.

Ia berharap semangat tersebut terus ditingkatkan sehingga Tolikara tidak hanya mampu menjaga kerukunan di daerahnya, tetapi juga dapat menjadi contoh bagi daerah lain di Indonesia.

“Kami memberikan apresiasi setinggi-tingginya kepada Bupati Willem Wandik dan Wakil Bupati Yotam Wonda. Dialog seperti ini harus terus ditingkatkan karena kerukunan tidak dapat dibangun hanya melalui kata-kata, tetapi melalui perjumpaan, komunikasi dan kerja sama,” ucapnya.

Apresiasi serupa disampaikan Kepala Kantor Wilayah (Kakanwil) Kementerian Agama Provinsi Papua, Klemens Taran, S.Ag. Menurutnya, menciptakan kedamaian di sebuah daerah membutuhkan peran aktif semua pihak, terutama para pemimpin dan tokoh agama.

Tokoh agama dinilai memiliki posisi penting karena berada dekat dengan masyarakat dan memiliki pengaruh besar dalam membentuk cara pandang, sikap serta perilaku umat.

“Kedamaian itu tidak jatuh dari langit. Kedamaian harus diciptakan oleh kita semua melalui relasi dan kerja sama antarumat beragama,” jelas Kakanwil, Klemens Taran.

Klemens Taran menilai langkah yang dilakukan Pemerintah Kabupaten Tolikara melalui dialog lintas agama merupakan sesuatu yang positif dan perlu terus dikembangkan.

Ia bahkan mendorong agar Tolikara menjadi salah satu daerah yang dapat memberikan contoh bahwa perbedaan agama tidak harus menjadi sumber perpecahan, tetapi justru dapat menjadi kekuatan untuk membangun persaudaraan.

Sementara itu, Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Tolikara, Mikhel Dandirwalu, S.Th.,MM selaku Ketua Panitia Dialog Kerukunan Tokoh-Tokoh Agama Kabupaten Tolikara mengatakan, dialog ini bertujuan untuk mempertemukan tokoh lintas iman guna mencegah potensi konflik serta memperkuat komitmen menjaga perdamaian.

“Tujuannya antara lain untuk meningkatkan peran tokoh agama sebagai perekat persatuan dan agen perdamaian serta mencegah potensi konflik berbasis agama melalui deteksi dini. Ini bagian dari upaya mendukung program pemda mewujudkan Tolikara yang aman, rukun, dan sejahtera,” jelas Mikhel Dandirwalu.

Dalam dialog tersebut, para peserta diberikan kesempatan menyampaikan berbagai pertanyaan, pandangan dan pengalaman terkait kehidupan kerukunan umat beragama.

Pertanyaan yang disampaikan peserta mendapat tanggapan langsung dari tiga pemateri, yakni Bupati Tolikara Willem Wandik, Direktur Urusan Agama Kristen Luksen Jems Mayor, dan Kakanwil Kementerian Agama Provinsi Papua Klemens Taran.

Suasana dialog berlangsung terbuka dan penuh semangat. Perbedaan pandangan tidak menjadi penghalang, tetapi menjadi ruang untuk saling memahami dan memperkuat persaudaraan.

Bagi masyarakat Tolikara, perjumpaan lintas agama seperti ini memiliki makna penting. Sebab, kerukunan tidak lahir karena semua orang memiliki keyakinan yang sama. Kerukunan lahir ketika setiap orang mampu menghormati keyakinan orang lain dan memilih untuk hidup berdampingan dalam kasih dan kedamaian.

Usai dialog, kegiatan dilanjutkan dengan penyerahan Piagam Penghargaan sebagai Tokoh Pemelihara Kerukunan Umat Beragama Provinsi Papua Pegunungan di Kabupaten Tolikara kepada Bupati Tolikara, Willem Wandik, S.Sos.

Piagam penghargaan tersebut diserahkan Kepala Kanwil Kementerian Agama Provinsi Papua, Klemens Taran, S.Ag didampingi Direktur Urusan Agama Kristen, Luksen Jems Mayor, S.Sos., M.AP dan disaksikan seluruh peserta dialog.

Penghargaan yang diberikan menjadi bentuk apresiasi atas peran dan komitmen Bupati Willem Wandik, S. Sos dalam mendorong kehidupan yang harmonis di tengah masyarakat.

Penghargaan tersebut sekaligus menjadi pengingat bahwa menjaga kerukunan bukan pekerjaan seorang pemimpin saja. Kerukunan adalah tanggung jawab seluruh masyarakat.

Inilah semangat “Tolikara RAMAH: Religius, Berbudaya, Mandiri, Adil dan Sejahtera” yang diwujudkan melalui persaudaraan, toleransi dan kerja sama seluruh umat beragama.[Diskomdigi Tolikara]*

Post View : 294

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *