Penguatan Identitas Sejarah dan Spiritualitas melalui Pembangunan Peta Sejarah Injil dan Fasilitas Wisata Rohani di Tolikara

BOKONDINI[papuani.com]-Bupati Tolikara Willem Wandik, S.Sos didampingi Tim Napak Tilas Sejarah Injil Masuk Tolikara dan beberapa Pimpinan OPD melakukan kunjungan kerja ke Distrik Bokondini, Senin, 26 Mei 2025.

Kunjangan kerja itu dilakukan dalam upaya pendataan jejak sejarah Injil masuk di Tolikara. Ini merupakan salah satu langkah strategis awal untuk memperkuat identitas sejarah dan keimanan masyarakat, sekaligus menjadi fondasi untuk pelestarian budaya, edukasi, dan pengembangan destinasi wisata rohani.

Tujuannya adalah agar kekayaan sejarah dan spiritual tidak hanya dikenang sebagai masa lalu, tetapi juga menjadi kekuatan yang mempersatukan masyarakat dan mendorong pembangunan berkelanjutan berbasis warisan budaya dan keimanan.

Bupati Tolikara bersama tim menemui beberapa tokoh penting yaitu Pendeta Keboba Tari Wanimbo pelaku GIDI mantan Presiden ke dua tahun 1969-1970 Gereja Injili Irian Barat (GIIB) sekarang berubah nama menjadi GIDI, dan ketua Wilayah Pendeta Keboba Wanimbo bersama pengurus wilayah GIDI Bogo lainnya.

Bupati Willem Wandik pada pertemuan itu mengatakan, dalam tahun 2025, Pemerintah Kabupaten Tolikara mengambil langkah strategis dalam memperkuat identitas keagamaan dan budaya masyarakatnya melalui penyusunan Dokumen Peta Sejarah Masuknya Injil ke Wilayah Tolikara. Sebuah inisiatif yang menunjukkan komitmen untuk menghargai jejak sejarah kedatangan Injil dan peran misionaris dalam pembentukan komunitas religius di wilayah pegunungan Papua.

“Dokumen ini akan menyajikan narasi lengkap tentang perjalanan misionaris dari berbagai daerah seperti Bogo, Konda, Toli, Kembu, hingga Taiyeve, yang secara historis menjadi titik awal perkembangan Gereja Injili di Indonesia (GIDI),” ucap Bupati Willem Wandik.

Menurutnya, penyusunan peta sejarah ini bukan sekadar catatan kronologis, melainkan sebuah usaha untuk memahami dan menghormati proses spiritual dan sosial yang membentuk identitas masyarakat Tolikara dan sekitarnya.

Jejak kedatangan Injil menandai babak penting dalam transformasi budaya dan keagamaan, serta memperlihatkan bagaimana nilai-nilai spiritual yang dibawa misionaris berintegrasi dengan kehidupan masyarakat lokal yang kaya akan tradisi dan kearifan lokal. Dengan demikian, dokumen ini menjadi warisan sejarah yang memperkuat rasa bangga, identitas, dan keberlanjutan warisan rohani masyarakat.

“Kami Pemerintah Tolikara berencana akan membangun sejumlah fasilitas wisata rohani yang berakar kuat pada budaya lokal dan sejarah keagamaan. Fasilitas ini meliputi Rumah Doa bernuansa kearifan lokal, yang akan menjadi pusat ibadah dan refleksi spiritual, serta rekonstruksi rumah-rumah misionaris awal yang menjadi saksi bisu perjalanan sejarah kedatangan Injil,* ujar Bupati Willem Wandik.

“Penataan ini tidak hanya berfungsi sebagai daya tarik wisata rohani, tetapi juga sebagai media edukasi bagi generasi muda dan wisatawan yang ingin mengenal lebih dekat warisan spiritual dan budaya masyarakat Tolikara,” jelasnya..

Dikatakannya, langkah ini merupakan bagian dari visi besar Kabupaten Tolikara untuk menjadikan wilayahnya sebagai pusat wisata rohani di Pegunungan Papua. Dengan kekayaan budaya dan kekayaan spiritual yang dimiliki, Tolikara ingin memperlihatkan kepada dunia bahwa pegunungan Papua tidak hanya memiliki keindahan alam, tetapi juga kekayaan sejarah dan keimanan yang mendalam.

Dalam proses pembangunan ini, sinergi dengan Pemerintah Provinsi Papua Pegunungan menjadi kunci utama, terutama dalam penyediaan akses transportasi dan infrastruktur yang memadai agar destinasi wisata rohani ini dapat diakses secara nyaman dan aman.

“Sebagai bentuk penghormatan dan pengakuan atas sejarah penting tersebut, Pemerintah Kabupaten Tolikara berencana menetapkan tanggal resmi masuknya Injil ke Tolikara sebagai hari besar keagamaan dan hari libur daerah. Penetapan ini akan memperkuat rasa identitas dan kebanggaan umat GIDI serta menjadi momentum untuk mempererat solidaritas,” tuturnya.

Selain itu, Pemerintah Kabupaten Tolikara juga akan menggelar festival budaya tahunan yaitu Festival Budaya Suku Lani. Festival ini menjadi momen penting untuk memperkenalkan kekayaan budaya suku Lani kepada masyarakat luas dan wisatawan.

Akan ditampilkan berbagai pertunjukan seni tradisional, upacara adat, serta ibadah syukur bersama yang melibatkan kabupaten tetangga seperti Puncak Jaya, Puncak, Lanny Jaya, dan Mamberamo Tengah. Melalui perayaan ini, diharapkan tercipta sinergi budaya dan spiritual yang memperkuat identitas daerah sekaligus meningkatkan potensi ekonomi berbasis budaya dan keimanan.[Diskominfo Tolikara]*

Post View : 1136

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *