SAMBUTAN BUPATI TOLIKARA SAAT PERINGATAN HUT GIDI KE-63 DI KANGGIME 12 FEBRUARI 2026

KABUPATEN TOLIKARA-TANAH INJIL YANG DAMAI

Yang saya muliakan para hamba Tuhan, para tua-tua gereja, tokoh adat, tokoh perempuan, serta generasi muda Tanah Papua yang saya banggakan..

Dan seluruh umat Tuhan yang saya kasihi dalam kasih Tuhan Yesus Kristus..

Puji dan syukur kita panjatkan ke hadirat Allah Bapa di Sorga.. 

Karena oleh kasih, anugerah, dan penyertaan-Nya, kita boleh berdiri hari ini di Tanah Yang Diberkati Tuhan — Lembah Toli, Tanah Injil, Tanah Damai..

Sejak kami — pasangan Wilyon — secara resmi menerima amanah memimpin Kabupaten Tolikara pada awal Tahun 2025..

Kami dengan penuh kesadaran iman dan tanggung jawab sejarah telah menetapkan dalam RPJMD Kabupaten Tolikara 2025–2029 bahwa Tolikara adalah Kabupaten Tanah Injil..

Ini adalah sebuah PENGAKUAN RESMI PERTAMA Dalam Sejarah Pemerintah Daerah di Tanah Papua – yang dilandaskan pada sejarah rohani tanah ini..

Bahwa dari lembah dan pegunungan inilah – terang Injil pernah menyala dan menyebar Membangun Peradaban ke jantung Tanah Papua..

Hari ini semakin bermakna..

Karena kita merayakan Hari Ulang Tahun Gereja Injili Di Indonesia yang ke-63..

Yang bertepatan dengan pelaksanaan Sidang BPL GIDI di Kanggime dan Kabupaten Tolikara dengan penuh bangga dan sukacita menjadi Tuan Rumahnya.. 

Saudara-saudaraku yang terkasih..

Perayaan hari ini bukan sekadar memperingati bertambahnya usia sebuah lembaga gereja..

Hari ini adalah:

  • Perayaan kasih Tuhan yang telah mengubah peradaban Orang Asli Papua (OAP)..
  • Perayaan terang Injil yang mengangkat martabat, harkat, dan masa depan OAP..
  • Perayaan damai sejahtera Kristus yang terus kita rawat di seluruh penjuru Tanah Papua..

Karena Injil bukan semata-mata hanya membawa keselamatan rohani saja..

Tetapi Injil juga hadir ditengah Rakyat dan Bangsa Komunal di Tanah Papua, untuk membentuk karakter, persaudaraan, keadilan, dan kehidupan yang bermartabat bagi Ummat, Tanah, Air, Alam, Sistem Adat, Sistem Sosial, Keselamatan Sebuah Negeri, dan Kemakmuran Bagi Sebuah Bangsa..

Dan selama Injil tetap hidup di tanah ini..

Maka damai Tuhan akan terus menaungi Tanah Papua..

Dan harapan itu, akan selalu menyala bagi generasi dihari ini, maupun bagi generasi kita dimasa mendatang..

A. GIDI — Gereja Pribumi yang Berdiri di Rumah Sendiri

Saudara-saudaraku terkasih..

GIDI dijuluki Gereja Pribumi karena Gereja ini lahir, tumbuh, dan berakar di Tanah Papua..

Dari Tanah inilah, Gereja GIDI kemudian menyebar ke seluruh kepulauan Nusantara — Meliputi Kepulauan Sumatera, Jawa, Kalimantan, Sulawesi, Nusa Tenggara, Halmahera, Maluku — bahkan terus menyebar hingga mencakup lintas benua dan lintas negara..

Namun yang luar biasa:

GIDI tidak memiliki organisasi induk di benua lain..

Pusat dan rumah besarnya hanya satu — yaitu di Tanah Papua..

Kantor Sinode GIDI sejak awal berdiri pada tahun 1970-an berakar dari Bokondini, Tolikara..

Nama gereja yang semula Bernama “Gereja Injili Irian Barat (GIIB)” kemudian menjadi “Gereja Injili di Indonesia (GIDI)” seiring proses integrasi Tanah Papua kepangkuan Republik Indonesia..

Ke depan, seiring pelayanan globalnya, GIDI bahkan diagendakan menjadi “Gereja Injili Indonesia Internasional (GIII)..”

Inilah gereja yang:

  • Tidak tumbuh sebagai tamu di negeri sendiri..
  • Tidak bergantung pada pusat Eropa atau Amerika..
  • Tetapi berdiri mandiri di rumah sendiri, dengan seluruh kekuatan dan kemandirian yang dibangun atas prinsip budaya komunal, yang mengakar di Tanah Papua..

Seperti Honai di punggung pegunungan Tanah Papua — sederhana namun kokoh, hangat namun kuat, dan berakar di tanah leluhur..

GIDI mengajarkan bahwa Injil tidak mencabut jati diri Orang Asli Papua..

Injil justru mengkuduskan budaya, menguatkan martabat, dan membangun peradaban di atas kebudayaan suku-suku komunal yang berakar kuat di Tanah Papua..

B. Sejarah Suci GIDI Yang Berakar Di Lembah Toli

Saudara-saudari yang terkasih dalam nama Tuhan..

Gereja Injili Di Indonesia lahir dari rahim tanah ini..

Di Pegunungan Tengah – Tanah Papua..

Tepat pada tanggal 12 Februari 1963..

GIDI dirintis dengan iman yang sederhana namun menyala..

Oleh para misionaris bersama para penginjil Pribumi Asli – Tanah Papua..

Yang pada mulanya bernama Gereja Injili Irian Barat..

Sebelum kemudian bertumbuh dan dikenal sebagai Gereja Injili Di Indonesia..

Dari lembah-lembah sunyi dan gunung-gunung yang dahulu sulit dijangkau..

Tuhan membesarkan GIDI menjadi gereja yang kuat, mandiri, dan missioner..

Hingga hari ini pelayanan GIDI telah menjangkau bukan hanya Tanah Papua..

Tetapi meluas hingga menyebar ke berbagai daerah Kepulauan Nusantara..

Melayani banyak suku bangsa, serta membawa terang Injil hingga ke pelosok negeri..

Tanah yang kita pijaki hari ini — Kanggime, Karubaga, dan seluruh wilayah Tolikara..

Adalah saksi hidup bagaimana Injil tidak hanya bertumbuh sebagai iman pribadi..

Tetapi juga sebagai kekuatan yang membangun peradaban..

Injil membentuk masyarakat yang mengenal kasih..

Menghargai kehidupan..

Membangun pendidikan..

Dan merawat perdamaian..

Sebelum GIDI berdiri di tahun 1963, Tuhan lebih dahulu membuka jalan melalui misi pelayanan..

Pada tahun 1957, badan misi Regions Beyond Missionary Union (RBMU) memasuki wilayah Toli — Karubaga, Mamit, Kanggime, dan Wunin..

Kemudian Regions Beyond Missionary Union (RBMU) membuka pos Injil, pendidikan, kesehatan, bahkan lapangan terbang darurat dengan bantuan pesawat kecil dari Missionary Aviation Fellowship..

Dari medan terjal inilah, Injil kemudian bertumbuh:

  • 1957: pendaratan pertama di Mamit..
  • 1957–1959: ekspansi ke Karubaga, Kanggime, Wunin..
  • 1960–1962: pertobatan massal & kaderisasi penginjil lokal..
  • 12 Februari 1963: lahirnya GIDI di Karubaga..

Inilah buah dari proses perjalanan panjang “pelayanan iman” yang di hari ini telah bertransformasi menjadi gereja pribumi terbesar di Tanah Papua..

Saudara-saudari yang terkasih dalam Tuhan..

Pelayanan misionaris yang dahulu dirintis oleh badan misi Regions Beyond Missionary Union (RBMU)..

Yang dalam sejarah misi Protestan juga sering dikaitkan dengan gerakan misi Eropa..

Kini tidak lagi berdiri sebagai lembaga asing..

Melainkan telah bertransformasi secara organisasional dan rohani..

Menyatu sepenuhnya ke dalam tubuh gereja lokal pribumi, yaitu

Gereja Injili di Indonesia (GIDI)..

Apa yang dahulu dimulai sebagai pelayanan zending kedalam perintisan awal Penginjilan..

Hari ini telah bertumbuh menjadi gereja mandiri yang memimpin pelayanannya sendiri..

Dan Tolikara — dengan Karubaga sebagai jantung pelayanan di Pegunungan Tanah Papua..

Menjadi salah satu basis terbesar pertumbuhan dan pelayanan GIDI di Tanah Papua..

Pelayanan yang dahulu berfokus pada pembukaan Injil dasar (zending)..

Kini berkembang menjadi pelayanan yang menyentuh seluruh dimensi kehidupan umat, meliputi:

  • Pelayanan rohani dan pembinaan iman..
  • Pendidikan formal dan teologi..
  • Pelayanan kesehatan masyarakat pedalaman..
  • Pembentukan karakter generasi masa depan Tanah Papua..

Inilah buah nyata Injil yang tidak hanya menyelamatkan jiwa..

Tetapi membangun peradaban..

Dan sebagai bentuk penghormatan atas perjalanan sejarah iman ini..

Pemerintah Kabupaten Kabupaten Tolikara..

Saat ini sedang menyusun dokumen peta sejarah masuknya Injil di Tolikara..

Untuk merekam secara resmi perjalanan misi..

Dari era perintisan RBMU di Lembah Toli..

Hingga bertumbuh dalam struktur gereja pribumi GIDI yang kita kasihi hari ini..

Dengan demikian, sejarah ini tidak hanya hidup dalam cerita lisan..

Tetapi menjadi warisan iman tertulis bagi generasi di Tanah Papua sepanjang masa..

Singkatnya, saudara-saudari yang dikasihi Tuhan Yesus Kristus..

Apa yang dahulu ditabur oleh para misionaris dengan air mata dan doa..

Hari ini hidup, bertumbuh, dan memimpin pelayanannya sendiri..

Di bawah sinode GIDI — gereja pribumi Tanah Papua..

Inilah bukti bahwa Injil benar-benar telah berakar..

Berbuah, dan berdaulat di Tanah ini..

Selain sejarah Penginjilan 1957 – 1963..

Di pedalaman Tanah Papua Pegunungan tersebut..

Sejarah Injil di Tanah Papua juga bahkan telah dimulai..

Jauh lebih awal sejak Tahun 1855 (tepatnya 171 tahun yang lalu)..

Pada tanggal 5 Februari 1855, Terangnya Injil pertama kali tiba di Tanah Papua melalui pelayanan

Carl Wilhelm Ottow dan

Johann Gottlob Geissler

di Pulau Mansinam..

Dari pesisir itulah

Injil mengalir hingga ke jantung pegunungan

Termasuk misi pelayanan yang membangun pusat penginjilan di Tolikara saat ini..

Dan dari perjalanan panjang itulah, gereja di Tanah Papua telah bertransformasi menjadi:

  • Pelopor pendidikan formal bagi anak-anak di Tanah Papua..
  • Perintis pelayanan kesehatan di wilayah pedalaman dan terisolir..
  • Agen perubahan sosial dan kemanusiaan..
  • Penanam nilai iman, moral, dan etos kerja..
  • Pembawa damai di tengah konflik dan perpecahan..
  • Mitra strategis Pemerintah Daerah – dalam pembangunan sumber daya manusia..

Saudara-saudaraku yang terkasih..

Injil di Tanah Papua bukan sekadar sejarah rohani..

Melainkan sebagai fondasi peradaban..

Injil dihari ini – telah mengubah banyak aspek negatif dimasa sebelumnya, yaitu:

  • Kegelapan menjadi terang..
  • Permusuhan menjadi rekonsiliasi..
  • Ketertinggalan menjadi harapan masa depan..

Dan selama Injil tetap hidup di tanah ini..

Tanah Papua akan terus berdiri sebagai Tanah Damai..

Tanah Harapan..

Dan Tanah yang diberkati Tuhan..

C. Wilayah Bogo: Kelila dan Bokondini — Salah Satu Batu Penjuru Pekabaran Injil

Saudara-saudari yang terkasih..

Sejarah GIDI juga berakar kuat di Wilayah Bogo — Kelila dan Bokondini..

Pada 29 Juli 1962, pembaptisan pertama dilaksanakan di Kelila..

Menandai lahirnya peradaban baru Injil di wilayah Bogo..

Dari sana jemaat bertumbuh pesat, konferensi wilayah rutin dilakukan..

Hingga pada April 2024 telah diresmikan:

  • Kantor Wilayah Bogo..
  • Tugu Salib Injil pertama..
  • Sekolah Alkitab Bogo..
  • 9 honai simbol sejarah pelayanan awal..

Wilayah Bogo hari ini menjadi pusat pendidikan teologi dan penginjilan strategis di Tanah Papua Pegunungan..

D. Gereja di Tengah Luka Sejarah Tanah Papua

Saudara-saudari yang saya kasihi dalam Tuhan..

Kita semua menyadari dengan jujur dan terbuka..

Bahwa Tanah Papua telah melewati perjalanan sejarah yang panjang dan penuh air mata..

Sejak Penentuan Pendapat Rakyat Tahun 1969..

Sebuah peristiwa bersejarah yang membawa bangsa Melanesia di Tanah ini..

Menjadi bagian dari Negara Kesatuan Republik Indonesia hingga hari ini..

Tanah Papua telah melalui masa-masa yang tidak mudah..

Dalam perjalanan integrasi kebangsaan itu..

Baik yang dialami oleh generasi pendahulu maupun yang masih kita rasakan hingga kini..

Realitas kekerasan, pelanggaran hak asasi manusia, ketimpangan pembangunan, serta konflik bersenjata — termasuk yang dilakukan oleh Organisasi Papua Merdeka Bersama Tentara Organik TNI/POLRI telah meninggalkan Dampak Collateral Damage (dampak ikutan yang menimbulkan korban jiwa pada masyarakat sipil) — Telah meninggalkan luka mendalam dan trauma berkepanjangan bagi rakyat yang hidup dalam bayang-bayang ketakutan dan ketidakpastian..

Namun saudara-saudaraku..

Di tengah gelapnya sejarah itu, Gereja tidak pernah pergi..

Gereja tetap tinggal bersama umat..

Gereja tetap menangis bersama rakyat..

Gereja tetap berdiri ketika banyak pihak menjauh..

Dan GIDI — sebagai gereja pribumi bagi Orang Asli Papua..

Terus menunjukkan peran nyata sebagai pelindung umat..

Pelayan kemanusiaan..

Serta pembawa damai di tanah yang terluka ini..

Demi kemuliaan nama Tuhan..

Di tengah terpaan cobaan yang datang silih berganti..

Gereja tetap berdiri sebagai:

  • Rumah pengharapan bagi yang terluka..
  • Suara keadilan bagi yang tertindas..
  • Jembatan rekonsiliasi bagi yang terpecah..
  • Penjaga damai Tanah Papua sebagai Tanah Damai..

Dan di hari ini, kita bersyukur kepada Tuhan..

Karena Kabupaten Tolikara tetap menjadi tanah yang sejuk, harmonis, dan relatif bebas dari konflik besar..

Bukan karena kita lebih kuat dari daerah lain..

Melainkan karena Injil telah menanamkan kasih, pengampunan, dan persaudaraan

di dalam hati masyarakat kita..

Sebagai Pemerintah Kabupaten Tolikara..

Kami menyadari sepenuhnya bahwa damai ini adalah anugerah Tuhan yang harus dijaga..

Bukan kebetulan sejarah..

Oleh karena itu kami bertekad..

Dalam lima tahun pertama masa kepemimpinan kami..

Untuk menuntaskan pembentukan pranata hukum dan perundang-undangan daerah..

Yang secara resmi dan permanen memperkuat posisi Tolikara sebagai Kabupaten Tanah Injil..

Sebagai agenda kenegaraan daerah..

Yang bukan hanya berlaku hari ini..

Tetapi menjadi warisan rohani dan sosial bagi seratus tahun ke depan..

Sebab kami sadar..

Usia manusia terbatas..

Masa jabatan pemimpin juga dibatasi oleh undang-undang..

Namun nilai yang kita wariskan hari ini..

Akan menentukan wajah Tolikara di masa depan..

Dan warisan terbaik yang dapat kami tinggalkan bagi generasi di Tanah Papua berikutnya..

Bukanlah kekuasaan..

Melainkan fondasi iman yang dilindungi oleh negara..

Yang menguatkan kelembagaan gereja..

Sebagai identitas resmi, roh pembangunan..

Dan penjaga damai Kabupaten Tolikara sepanjang masa..

E. Tolikara sebagai Tanah Injil yang Damai & Pusat Kerohanian di Jantung Tanah Papua

Saudara-saudari yang terkasih dalam Tuhan..

Berangkat dari sejarah iman yang kuat..

Serta panggilan rohani atas tanah ini..

Pemerintah Kabupaten Tolikara di masa kepemimpinan kami telah menetapkan sebuah visi besar:

“Terwujudnya Tolikara yang Religius, Berbudaya, Mandiri, Adil, dan Sejahtera.”

Visi ini bukan sekadar slogan pembangunan..

Melainkan arah peradaban yang kami bangun di atas nilai Injil dan kearifan lokal..

Dan untuk mewujudkannya, kami menggerakkan misi utama sebagai berikut:

  • Menjadikan Tolikara sebagai pusat kerohanian dan pusat kebudayaan di Pegunungan Tengah Papua..
  • Melestarikan lingkungan hidup berbasis adat dan iman sebagai amanah ciptaan Tuhan..
  • Membangun infrastruktur secara adil, merata, dan menjangkau kampung-kampung terpencil..
  • Mencetak sumber daya manusia unggul yang berkarakter Injil, berilmu, dan berintegritas..
  • Membangun ekonomi rakyat dari kampung ke kota secara berkelanjutan..
  • Mewujudkan pelayanan publik yang bersih, cepat, dan berkualitas..

Saudara-saudaraku yang terkasih..

Atas dasar inilah kami meyakini bahwa kekuatan pembangunan terbesar Tolikara

bukan semata-mata terletak pada kapasitas fiskal atau besarnya anggaran..

Tetapi terletak pada:

  • Iman yang hidup..
  • Karakter yang kuat..
  • Budaya damai yang terpelihara..
  • Persatuan umat yang terus dirawat oleh gereja dari generasi ke generasi..

Inilah modal sosial dan rohani terbesar Tolikara..

Lembah Toli menjadi bukti nyata bahwa Injil mampu mentransformasi masyarakat..

Dari kehidupan yang terikat ketakutan dan keterbelakangan..

Menuju peradaban yang rukun, terbuka terhadap perubahan..

Berani bermimpi besar..

Dan siap melangkah menuju masa depan yang unggul..

Karena ketika Injil menjadi fondasi hidup..

Pembangunan tidak hanya membangun jalan dan gedung..

Tetapi membangun manusia seutuhnya..

Dan ketika manusia dibangun dalam kasih Kristus..

Maka Tolikara akan terus berdiri sebagai Tanah Injil yang Damai..

Sebagai pusat terang rohani..

Dan sebagai berkat bagi Tanah Papua, Indonesia dan bagi seluruh Dunia..

F. Peran GIDI untuk Masa Depan Generasi Mendatang

Saudara-saudari yang terkasih dalam Tuhan..

Di usia GIDI yang ke-63 ini — usia yang matang dalam pelayanan dan kaya dalam pengalaman iman..

Saya mengajak seluruh pimpinan gereja, para hamba Tuhan, para sesepuh gereja, serta para tua-tua adat di Tanah Papua..

Untuk bersama-sama menatap masa depan Tolikara dengan harapan dan tanggung jawab yang besar..

Oleh karena itu, Kami mengajak GIDI untuk terus:

  • Membina generasi muda yang kuat dalam iman, berakar pada ajaran Injil, serta unggul dalam ilmu pengetahuan dan wawasan kebangsaan..
  • Menjadi benteng moral masyarakat, dalam menghadapi arus kerusakan karakter, kekerasan, dan perpecahan sosial..
  • Menjadi mitra aktif pemerintah daerah dalam membangun pendidikan, pelayanan kesehatan, dan pembentukan karakter SDM di Tanah Papua..
  • Menjaga Tolikara sebagai Tanah Injil yang damai, harmonis, dan bebas konflik..
  • Menjadi pelopor ekonomi kreatif rakyat yang berbasis budaya lokal, etika Kristen, dan kemandirian kampung..

Saudara-saudaraku yang terkasih..

Harapan besar kami adalah:

Agar generasi masa depan Tolikara dan Tanah Papua pada umumnya, harus berdiri di atas tiga pilar utama:

  • Kuat dalam fondasi iman..
  • Unggul dalam ilmu pengetahuan..
  • Mandiri dalam ekonomi dan kreativitas..

Karena hanya generasi seperti inilah yang mampu menjaga damai di Tanah Papua..

Membangun Tolikara dan Tanah Papua secara bermartabat..

Dan membawa Tanah Injil ini melangkah maju sejajar dengan daerah lain-nya di Indonesia..

Dan selama gereja, adat, dan pemerintah berjalan bersama dalam kasih Tuhan..

Maka masa depan Tolikara akan menjadi masa depan yang terang, damai, dan penuh harapan..

Penutup

Saudara-saudari yang terkasih dalam Tuhan..

Akhir kata, atas nama Pemerintah Kabupaten Tolikara dan seluruh rakyat yang kami layani..

Dengan penuh hormat, kasih, dan ucapan syukur, kami menyampaikan:

Selamat Ulang Tahun ke-63 kepada Gereja Injili Di Indonesia..

Terima kasih atas pengorbanan para misionaris..

Para pendeta, penginjil, guru Injil, dan seluruh pelayan Tuhan..

Yang telah menanam benih Injil di tanah ini..

Dengan air mata, doa, kerja keras, dan kesetiaan yang tulus dalam pelayanan..

Apa yang kita nikmati hari ini..

Damai, pendidikan, iman yang hidup, dan persaudaraan..

Adalah buah dari ketaatan generasi yang telah mendahului kita..

Besar Harapan Kami, Kiranya GIDI akan terus:

  • Menjadi terang yang menerangi Tanah Papua..
  • Menjadi tiang damai bagi bangsa dan generasi..
  • Menjadi saluran berkat bagi Tolikara dan seluruh Tanah Papua..

Kiranya Allah Bapa yang memiliki kuasa atas Injil – memberkati setiap pelayanan..

Memberkati setiap keluarga hamba Tuhan..

Dan memberkati setiap langkah gereja dalam membawa kasih Kristus ke seluruh penjuru negeri..

Tuhan memberkati GIDI..

Tuhan memberkati Kabupaten Tolikara..

Tuhan memberkati Tanah Papua..

Tuhan memberkati Negeri dan Bangsa ini.

Wa… Wa… Wa… Wa…

Willem Wandik S.Sos

Bupati Tolikara

Post View : 360

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *