Oleh: Dr. Imanuel Gurik,SE,.M.Ec.Dev (Asisten Bidang Ekbang & SDM Setda Tolikara)
Ketika orang berbicara tentang Papua, yang sering terbayang adalah wilayah pesisir dengan laut yang luas serta kota-kota pelabuhan yang ramai. Padahal, di bagian tengah pulau terdapat kawasan pegunungan yang menjadi pusat kehidupan masyarakat pedalaman. Di wilayah inilah Tolikara berdiri sebuah daerah yang oleh banyak orang disebut sebagai jantung Pulau Papua.
Sebutan ini bukan sekadar ungkapan simbolik. Secara geografis, Tolikara berada di kawasan pegunungan tengah Papua dengan luas wilayah sekitar 14.564 km² dan jumlah penduduk sekitar 250.365 jiwa. Penduduk tersebut tersebar di 46 distrik, 541 kampung dan 4 kelurahan, yang hidup di lembah-lembah subur, perbukitan, dan kawasan pegunungan yang luas.
Secara administratif, Tolikara berbatasan langsung dengan beberapa kabupaten di wilayah Papua Pegunungan. Di utara berbatasan dengan Kabupaten Mamberamo Raya, di selatan berbatasan dengan Kabupaten Lanny Jaya, di barat berbatasan dengan Kabupaten Puncak Jaya, dan di timur berbatasan dengan Kabupaten Jayawijaya. Posisi ini menjadikan Tolikara sebagai salah satu wilayah penting di kawasan pegunungan tengah Papua.
Dari sisi sosial budaya, masyarakat Tolikara memiliki identitas yang kuat. Di wilayah ini terdapat dua suku asli yang sejak lama hidup dan berkembang, yaitu Suku Lani yang mendiami sebagian besar wilayah Tolikara serta Suku Mamberamo yang berada di bagian utara wilayah ini. Kedua suku ini memiliki bahasa, tradisi, dan kearifan lokal yang menjadi bagian penting dari kehidupan masyarakat.
Dalam kehidupan sehari-hari, nilai kebersamaan masih sangat kuat. Gotong royong, kerja sama, dan solidaritas menjadi bagian dari kehidupan masyarakat, baik dalam kegiatan adat, sosial, maupun pembangunan kampung. Nilai-nilai ini menjadi kekuatan sosial yang menjaga keharmonisan kehidupan masyarakat di tengah kondisi alam pegunungan.
Selain dikenal dengan kekuatan budaya, Tolikara juga memiliki kehidupan spiritual yang sangat kuat. Mayoritas masyarakat Tolikara memeluk agama Kristen sekitar 99,17 persen, sementara sisanya menganut agama lain. Gereja menjadi pusat kehidupan masyarakat, tidak hanya sebagai tempat ibadah tetapi juga sebagai pusat pendidikan, pembinaan karakter, dan kegiatan sosial.
Sejarah spiritual Tolikara memiliki tempat penting dalam perjalanan kekristenan di tanah Papua. Injil pertama kali masuk ke wilayah ini pada tanggal 14 April 1957. Peristiwa tersebut menjadi titik awal perubahan besar dalam kehidupan masyarakat di wilayah pegunungan tengah. Melalui pelayanan para misionaris dan tokoh gereja lokal, nilai-nilai iman, pendidikan, dan pelayanan sosial mulai berkembang di tengah masyarakat.
Perkembangan pelayanan tersebut kemudian melahirkan sebuah gereja lokal yang sangat berpengaruh, yaitu Gereja Injili Di Indonesia (GIDI) yang didirikan pada 12 Februari 1963. Sejak saat itu, GIDI berkembang menjadi salah satu gereja lokal penting di tanah Papua. Pelayanannya tidak hanya menjangkau berbagai wilayah di Papua, tetapi juga berkembang ke berbagai daerah di Nusantara bahkan hingga mancanegara.
Untuk memperkuat identitas budaya dan spiritual tersebut, ke depan Tolikara juga akan menyelenggarakan Festival Etnik Religi (FER) setiap tahun. Festival ini direncanakan menjadi ruang pertemuan antara budaya, iman, dan kehidupan sosial masyarakat. Melalui kegiatan ini, kekayaan budaya lokal, nilai religius, serta sejarah pekabaran Injil di wilayah ini dapat diperkenalkan kepada masyarakat luas.
Selain kekuatan budaya dan spiritual, Tolikara juga memiliki potensi sumber daya alam yang besar. Tanah yang subur menjadikan wilayah ini memiliki potensi besar dalam pengembangan pangan dan pertanian. Berbagai buah-buahan seperti jeruk, nanas, dan durian tumbuh dengan baik di daerah ini.
Di sektor perkebunan, Tolikara memiliki potensi yang menjanjikan seperti kelapa, sagu, kopi arabika, pinang, serta berbagai tanaman perkebunan lainnya yang dapat menjadi sumber ekonomi masyarakat. Kopi arabika dari wilayah pegunungan bahkan memiliki peluang besar untuk dikembangkan sebagai komoditas unggulan.
Di bagian utara wilayah ini juga terdapat potensi perikanan air tawar, terutama yang berkaitan dengan kawasan aliran Sungai Mamberamo, salah satu sungai besar di Papua yang memiliki sumber daya perikanan yang cukup besar.
Memang, seperti banyak wilayah pegunungan lainnya, Tolikara masih menghadapi berbagai tantangan pembangunan, terutama terkait akses infrastruktur dan transportasi. Namun di balik tantangan tersebut tersimpan potensi besar untuk masa depan.
Karena itu, menyebut Tolikara sebagai jantung Pulau Papua bukan sekadar ungkapan. Dari wilayah inilah kehidupan sosial, budaya, dan spiritual masyarakat terus berdetak. Dengan kekayaan alam, kekuatan budaya, serta iman yang kuat, Tolikara memiliki harapan besar untuk menjadi pusat kehidupan dan inspirasi bagi Papua.
Selama semangat masyarakatnya tetap hidup, Tolikara akan terus menjadi jantung yang menghidupkan Papua dari tengah pulau ini.*






